Sel Mewah Artalyta

Hotel di Garut, terpidana kasus korupsi Departemen Perhubungan (Dephub) Darmawati Dareho mengatakan napi seperti dirinya tak memiliki kemewahan. Dia minta jangan dizalimi lagi.“Kami tinggal di dalam bui. Kami patuhi semua hukum penjara. Jangan zalimi kami lagi,” ujar PNS Dephub ini di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, Senin (11/1).

 Darmawati yang berkata-kata sambil menangis dan emosional itu pun menambahkan bahwa dirinya mengapresiasi kinerja Satgas Antimafia Hukum. “Saya appreciated pada Satgas Antimafia Hukum. Tapi jangan cuma rutan yang diobok-obok, masih banyak pekerjaan di luar, seperti kasus Century,” ujar Darmawati.

“Kami ini di sini mati, bukan fisiknya. Kami tidak bisa ke mana-mana. Coba kalian bayangkan kalau ibu atau kakak kalian. Tidak ada kita menambah fasilitas. Kita tidur seperti keong tidak mengeluh,” tambahnya.
“Tapi mengapa Artalyta selnya mewah Bu?” tanya wartawan.
“Itu bukan wewenang saya untuk ini (menjawabnya),” jawab Darmawati
“Ada bayar-bayaran?” cecar wartawan lagi.
“Tidak ada,” timpalnya.

Darmawati bercerita didampingi oleh 4 napi lainnya yang mendapatkan fasilitas berbeda dengan yang napi pada umumnya. Mereka adalah Artalyta Suryani (Ayin), Aling (kasus narkoba), Ines Wulandari (kasus korupsi) dan Eri (kasus korupsi).

Mereka duduk berlima di sebuah bangku panjang di lapangan Rutan. Wartawan mengelilingi mereka untuk menanyakan soal fasilitas mewah yang mereka dapatkan. Namun dari 5 orang itu, hanya Darmawati yang bicara. Dia bicara dengan meluap-luap menyangkal semua kabar yang beredar. Sedangkan Artalyta hanya diam saja sembari menyembunyikan wajahnya di balik punggung napi lainnya.

Namun sayang tanya jawab ini hanya berlangsung singkat karena wartawan kemudian diajak berkeliling rutan guna menunjukkan sel-sel para napi.

Darmawati Emosi, Sangkal Nikmati Kemewahan.Terpidana kasus korupsi Departemen Perhubungan (Dephub) Darmawati Dareho mempersilakan wartawan memeriksa selnya di blok Edelweiss. Sambil menangis dan emosi, Darmawati menyatakan tak ada kemewahan yang dinikmatinya.

Pantauan wartawan di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, Senin (11/1), sel-sel di blok Edelweiss yang dihuni Darmawati berukuruan 2×3 meter. 1 Ruangan itu minimal diisi 3 orang, ada yang 4 bahkan 6 orang.
Tak ada TV di dalam sel itu, tak ada pula kasur empuk. Mereka tidur dengan menggelar semacam karpet di lantai. Di depan sel banyak baju dan perlengkapan makan digantung sehingga berkesan sumpek.

“Silakan, pokoknya lihat sendiri. Mana ada AC, mana ada kemewahan, kita tinggal di sini 3 orang. Kalau 4 orang mau tidur di mana lagi? Tidak ada kemewahan!” ujar Darmawati dengan nada tinggi, lalu disambung dengan tangisan.

“AC-nya mana?” tanya wartawan.
“Tidak ada!” jawab dia.
“Disembunyikan di lemari?” cecar wartawan.
“Isinya baju-baju dan celana dalam, tidak ada AC!” tangkis Darmawati.
Satgas Mafia Hukum Ditantang Cek Sel Aulia Pohan

Sidak Satgas Pemberantasan Mafia Hukum terhadap sejumlah narapidana yang diduga mendapat perlakuan khusus hendaknya tidak berhenti pada Ayin cs saja. Satgas yang dibentuk oleh Presiden SBY ini ditantang untuk berani memeriksa sel besan SBY sendiri, Aulia Pohan, di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

“Bukan hanya sel Pondok Bambu saja, pada sel Aulia Pohan juga harus dilakukan,” kata peneliti hukum Indonesia Corruption Watch (ICW), Febridiansyah lewat rilis yang dikirim kepada detikcom, Minggu (10/1).
Dia melanjutkan, kasus seperti Ayin menunjukkan potret mafia hukum di lembaga pemasyarakatan (LP), di mana telah terjadi korupsi dan perlakuan diskriminatif bagi narapidana di tempat penahanan.

“Dan itu tidak boleh berhenti pada penggerebekan semata. Hal itu tidak akan berarti tanpa ada tindakan yang tegas pada pejabat yang bertanggung jawab di sana,” katanya.

Selain itu disarankan, langkah Satgas yang dimulai dari LP tidak hanya sekedar menjadi gula-gula saja.
“Tugas Satgas yang utama adalah memberantas mafia hukum di kepolisian dan kejaksaan,” tutup Febri.
Sel Mewah Artalyta Sel Mewah  Artalyta Reviewed by Bonita on 12:18 AM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.