Berita Otomotif - Video Porno Pelajar SMP telah mengemparkan kita semua. Memang hal tersebut sungguhu - sungguh telah menghancurkan moral bangsa ini.
Dengan banyaknya Video Porno Pelajar SMP yang heboh tersebut, awan mendung seolah tidak pernah menjauh dari dunia pendidikan Indonesia. Ketika pemerintah dan masyarakat masih dihadapkan pada segudang pekerjaan rumah untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia yang belum tertata dengan baik, sekarang kita juga dihadapkan pada kondisi mentalitas para pelajar dan pengajar yang semakin hari semakin memprihatinkan.Hingga hari ini, kita masih bisa dengan mudah menemukan berita-berita tentang aksi tawuran antar pelajar di berbagai media massa.
Belum lagi tindakan kekerasan, baik yang dilakukan oleh sesama pelajar maupun oleh para tenaga pengajar atau guru. Tengok juga peredaran Narkotika yang masih merajalela di kalangan pelajar. Kemudian rendahnya tingkat kualitas moral dan etika pelajar hari ini. Kita bisa saja dengan mudah menemukan berbagai video berbau pornografi dengan para pelajar setingkat SMA, bahkan SMP sebagai pemainnya.
Ada juga para pelajar putri yang selain berstatus sebagai pelajar, juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai wanita panggilan. Ditambah masuknya budaya barat yang menjadi dampak negatif dari globalisasi dan sesungguhnya tidak sesuai dengan kepribadian bangsa namun telah menjangkiti sebagian besar anak muda di negeri ini. Akibatnya para pelajar dan pemuda kian hari semakin kehilangan identitasnya sebagai pemuda bangsa Indonesia.
Sungguh, potret pelajar yang ada hari ini seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama. Kondisi ini sungguh harus menjadi perhatian dari semua pihak, baik pemerintah, penyelenggara pendidikan, guru, wali murid hingga para pelajar itu sendiri. Bagaimanapun suatu saat nanti, mereka-mereka inilah yang akan memimpin bangsa ini. Lalu jika hari ini kita melihat kondisi para pelajar yang demikian rusaknya, maka kira-kira seperti apakah wajah bangsa ini di masa depan?
Beberapa hari ini, di tengah maraknya kasus “Cicak dan Buaya” sedang diperbincangkan di media dan masyarakat, terselip sebuah berita kecil yang mungkin agak kurang mendapat perhatian. Namun berita ini seharusnya memantik keprihatinan besar kita semua. Sebuah berita mengenai ulah seorang oknum guru yang telah membuat soal ujian yang mengandung unsur berbau porno. Kasus ini berawal dari ditemukannya soal ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia yang mengandung unsur pornografi.
Keberadaan soal porno dalam ujian tersebut tentu saja memantik protes dari para orang tua wali murid. Keberadaan soal itu dianggap telah melanggar nilai-nilai asusila yang ada dalam masyarakat. Apalagi yang lebih mengecewakan adalah kejadian ini justru terjadi di institusi pendidikan yang seharusnya menjadi tempat untuk membangun moralitas pelajar dan dilakukan oleh oknum guru yang semestinya menjadi garda terdepan dalam menjaga moralitas pelajar.
Kejadian ini tentu menjadi preseden buruk di kalangan masyarakat. Guru yang seharusnya menjadi panutan, kini malah menjadi biang keladi yang memberikan contoh buruk bagi anak didiknya. Maka kita mungkin bisa saja berasumsi bahwa kondisi moralitas pelajar yang bobrok hari ini, didalamnya terdapat andil para oknum guru yang memberikan contoh negatif tersebut.
Guru memang bukan malaikat. Guru tetap saja hanya manusia biasa yang mungkin saja berbuat kesalahan. Namun kejadian ini tentu tidak bisa ditolerir. Apalagi sulit membayangkan bahwa kasus ini bisa terjadi tanpa disengaja.
Oknum guru yang membuat soal ujian porno tersebut, harus ditindak dengan tegas. Ia harus mendapat hukuman yang setimpal. Selain itu, mental para guru di Indonesia juga harus segera bersama-sama kita benahi. Para guru seharusnya menjadi teladan bagi para muridnya. Menjadi sosok yang bisa dijadikan contoh berperilaku bagi para anak didiknya. Menjadi panutan yang sebenar-sebenarnya. Karena sesungguhnya para guru juga adalah orang tua bagi para muridnya yang juga harus memberikan keteladanan.
Kita tentu tidak ingin kejadian serupa terjadi kembali. Demikian juga kasus-kasus lain yang sering melibatkan para oknum guru seperti perilaku kekerasan, korupsi, tindakan asusila, hingga kecurangan membocorkan soal Ujian yang secara jujur harus kita akui masih terjadi di kalangan guru Indonesia. Sudah seharusnya institusi pendidikan kita terjaga dan bersih dari segala tindakan-tindakan yang tidak benar tersebut. Sebab kita semua sadar bahwa pendidikan kita memiliki tujuan yang mulia yang tidak hanya untuk membentuk manusia cerdas, namun juga memiliki budi pekerti, emosional-spiritual serta kepribadian diri yang baik.
Para guru harus menyadari perannya sebagai pendidik, bukan hanya pengajar. Mereka mempunyai peran vital dalam upaya membentuk kepribadian bangsa. Guru mempunyai tugas bukan hanya untuk menjalankan proses transfer ilmu, namun juga harus menanamkan budi pekerti dan transfer nilai-nilai kebaikan. Karena itu, dengan tugas sedemikian berat, sudah sepatutnya guru mendapat penghargaan yang setinggi-tingginya atas jasa-jasa mereka, namun tentu juga guru harus mengimbanginya dengan memiliki integritas diri dan moralitas yang layak untuk dijadikan contoh.
Kita tentu pernah mendengar pribahasa : Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Guru adalah teladan bagi muridnya. Karena itu, guru seharusnya senantiasa menjaga segala perilakunya. Jangan sampai kasus yang merusak citra pendidikan yang dilakukan oleh oknum guru menjadi semakin panjang. Sebab, sendainya guru saja sudah tidak bisa lagi untuk dijadikan panutan, maka siapa lagi yang bisa dijadikan panutan oleh bangsa ini? **
· Anggota Kader Pembina Moral-Etika Pemuda Indonesia (KAPMEPI) Kalbar.
Dengan banyaknya Video Porno Pelajar SMP yang heboh tersebut, awan mendung seolah tidak pernah menjauh dari dunia pendidikan Indonesia. Ketika pemerintah dan masyarakat masih dihadapkan pada segudang pekerjaan rumah untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia yang belum tertata dengan baik, sekarang kita juga dihadapkan pada kondisi mentalitas para pelajar dan pengajar yang semakin hari semakin memprihatinkan.Hingga hari ini, kita masih bisa dengan mudah menemukan berita-berita tentang aksi tawuran antar pelajar di berbagai media massa.
Belum lagi tindakan kekerasan, baik yang dilakukan oleh sesama pelajar maupun oleh para tenaga pengajar atau guru. Tengok juga peredaran Narkotika yang masih merajalela di kalangan pelajar. Kemudian rendahnya tingkat kualitas moral dan etika pelajar hari ini. Kita bisa saja dengan mudah menemukan berbagai video berbau pornografi dengan para pelajar setingkat SMA, bahkan SMP sebagai pemainnya.
Ada juga para pelajar putri yang selain berstatus sebagai pelajar, juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai wanita panggilan. Ditambah masuknya budaya barat yang menjadi dampak negatif dari globalisasi dan sesungguhnya tidak sesuai dengan kepribadian bangsa namun telah menjangkiti sebagian besar anak muda di negeri ini. Akibatnya para pelajar dan pemuda kian hari semakin kehilangan identitasnya sebagai pemuda bangsa Indonesia.
Sungguh, potret pelajar yang ada hari ini seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama. Kondisi ini sungguh harus menjadi perhatian dari semua pihak, baik pemerintah, penyelenggara pendidikan, guru, wali murid hingga para pelajar itu sendiri. Bagaimanapun suatu saat nanti, mereka-mereka inilah yang akan memimpin bangsa ini. Lalu jika hari ini kita melihat kondisi para pelajar yang demikian rusaknya, maka kira-kira seperti apakah wajah bangsa ini di masa depan?
Beberapa hari ini, di tengah maraknya kasus “Cicak dan Buaya” sedang diperbincangkan di media dan masyarakat, terselip sebuah berita kecil yang mungkin agak kurang mendapat perhatian. Namun berita ini seharusnya memantik keprihatinan besar kita semua. Sebuah berita mengenai ulah seorang oknum guru yang telah membuat soal ujian yang mengandung unsur berbau porno. Kasus ini berawal dari ditemukannya soal ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia yang mengandung unsur pornografi.
Keberadaan soal porno dalam ujian tersebut tentu saja memantik protes dari para orang tua wali murid. Keberadaan soal itu dianggap telah melanggar nilai-nilai asusila yang ada dalam masyarakat. Apalagi yang lebih mengecewakan adalah kejadian ini justru terjadi di institusi pendidikan yang seharusnya menjadi tempat untuk membangun moralitas pelajar dan dilakukan oleh oknum guru yang semestinya menjadi garda terdepan dalam menjaga moralitas pelajar.
Kejadian ini tentu menjadi preseden buruk di kalangan masyarakat. Guru yang seharusnya menjadi panutan, kini malah menjadi biang keladi yang memberikan contoh buruk bagi anak didiknya. Maka kita mungkin bisa saja berasumsi bahwa kondisi moralitas pelajar yang bobrok hari ini, didalamnya terdapat andil para oknum guru yang memberikan contoh negatif tersebut.
Guru memang bukan malaikat. Guru tetap saja hanya manusia biasa yang mungkin saja berbuat kesalahan. Namun kejadian ini tentu tidak bisa ditolerir. Apalagi sulit membayangkan bahwa kasus ini bisa terjadi tanpa disengaja.
Oknum guru yang membuat soal ujian porno tersebut, harus ditindak dengan tegas. Ia harus mendapat hukuman yang setimpal. Selain itu, mental para guru di Indonesia juga harus segera bersama-sama kita benahi. Para guru seharusnya menjadi teladan bagi para muridnya. Menjadi sosok yang bisa dijadikan contoh berperilaku bagi para anak didiknya. Menjadi panutan yang sebenar-sebenarnya. Karena sesungguhnya para guru juga adalah orang tua bagi para muridnya yang juga harus memberikan keteladanan.
Kita tentu tidak ingin kejadian serupa terjadi kembali. Demikian juga kasus-kasus lain yang sering melibatkan para oknum guru seperti perilaku kekerasan, korupsi, tindakan asusila, hingga kecurangan membocorkan soal Ujian yang secara jujur harus kita akui masih terjadi di kalangan guru Indonesia. Sudah seharusnya institusi pendidikan kita terjaga dan bersih dari segala tindakan-tindakan yang tidak benar tersebut. Sebab kita semua sadar bahwa pendidikan kita memiliki tujuan yang mulia yang tidak hanya untuk membentuk manusia cerdas, namun juga memiliki budi pekerti, emosional-spiritual serta kepribadian diri yang baik.
Para guru harus menyadari perannya sebagai pendidik, bukan hanya pengajar. Mereka mempunyai peran vital dalam upaya membentuk kepribadian bangsa. Guru mempunyai tugas bukan hanya untuk menjalankan proses transfer ilmu, namun juga harus menanamkan budi pekerti dan transfer nilai-nilai kebaikan. Karena itu, dengan tugas sedemikian berat, sudah sepatutnya guru mendapat penghargaan yang setinggi-tingginya atas jasa-jasa mereka, namun tentu juga guru harus mengimbanginya dengan memiliki integritas diri dan moralitas yang layak untuk dijadikan contoh.
Kita tentu pernah mendengar pribahasa : Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Guru adalah teladan bagi muridnya. Karena itu, guru seharusnya senantiasa menjaga segala perilakunya. Jangan sampai kasus yang merusak citra pendidikan yang dilakukan oleh oknum guru menjadi semakin panjang. Sebab, sendainya guru saja sudah tidak bisa lagi untuk dijadikan panutan, maka siapa lagi yang bisa dijadikan panutan oleh bangsa ini? **
· Anggota Kader Pembina Moral-Etika Pemuda Indonesia (KAPMEPI) Kalbar.
Manusia Video Pelajar
Reviewed by Bonita
on
4:01 PM
Rating:
No comments: